Cerita Pendek (Kita Pacaran?)
Kita Pacaran?
Siang hari
begitu terik hingga sinarnya mampu menusuk kulit hingga lapisan terdalamnya,
namun entah mengapa para manusia-manusia itu tidak juga menyingkir dari
lapangan SMA Pelita Jaya. Sedari puluhan menit lalu, para manusia-manusia itu
berada dipinggir lapangan itu. Mereka adalah warga dari SMA Pelita Jaya, mereka
terus bersorak-sorak sedari tadi.
Pertandingan basket antar dua tim terbaik SMA Pelita Jaya memang sedang
berlangsung di lapangan itu, tim angkasa dan tim tata surya terus saja beradu
sedari tadi. Para warga SMA Pelita Jaya itu terus berteriak histeris setiap
kali kapten tim angkasa beraksi, terutama para ciwi-ciwi itu.
Kapten tim angkasa itu adalah Alvaro Dhe Bhiansyah, ia biasa disapa Alvaro.
Seorang kapten basket dari kelas sebelas IPS satu dengan segudang prestasi di
bidang non-akademik, maka tidak heran ia dinobatkan sebagai salah satu most
wanted di SMA Pelita Jaya.
Pertandingan basket telah selesai dan permainan dimenangkan oleh tim angkasa,
para pemain pun beristirahat dipinggir lapangan itu. Semua orang
berbondong-bondong menuju ke arah para pemain, untuk memberi minuman ataupun
sekedar mengelap keringat mereka. Seorang cewek bernama Silvia Putri Anatasya
atau yang biasa disapa Tasya pun mendatangi salah satu pemain basket itu, ia
berjalan mendekati Alvaro sambil membawa sapu tangan dan minuman di tangan kanannya.
"Alvaro, ini aku bawa minuman buat kamu," ucap Tasya sambil menyodorkan
minuman itu ke arah Alvaro
"Nggak, gue nggak mau minum," kata Alvaro, menolak minuman itu.
"Kok gitu
sih, yaudah deh aku lap keringat kamu ajah ya," ujar Tasya sambil
memposisikan dirinya untuk duduk di sebelah Alvaro dan mengelap keringat cowok
itu.
Merasa cukup risih dengan tindakan cewek itu, ia pun segera menepis tangan
cewek yang mengelap keringatnya itu dan berkata, "Gue bisa lap sendiri
kok, jadi lo nggak perlu ngelap keringat gue yang bau ini." Usai
mengatakan hal itu Alvaro langsung pergi, namun naasnya cewek centil itu malah
mengejar Alvaro sontak Alvaro pun mempercepat langkahnya untuk menjauh dari
cewek itu.
Di sisi lain, ada seorang cewek yang sedang berlari-lari dengan niat menghindar
dari seorang cowok yang terus mengejarnya sedari tadi. Sekitar satu jam yang
lalu, disaat semua orang sedang sibuk menonton pertandingan basket sementara
cewek yang bernama lengkap Shofia Indah Iarsyah atau yang disapa Shofia itu malah
memilih belajar di taman sekolahnya. Niat hati mencari ketenangan dengan
belajar di taman, malah ia diganggu oleh Akbar Putra Ervin atau yang disapa
Putra. Setelah cukup lama merasa resah dengan keberadaan Putra selama
bermenit-menit, akhinya Shofia pergi dari taman namun Putra malah mengejarnya.
"Bruk...," suara tabrakan dua orang itu dan mereka berdua pun
terjatuh.
"Aw, sakit," kata Shofia sambil mengelus bongkoknya yang kesakitan.
"Sorry, gue nggak sengaja," ucap Alvaro sambil membangunkan dirinya.
Alvaro membantu Shofia untuk bangun dan membereskan buku-buku Shofia yang
terjatuh, saat keduanya sudah berdiri tiba-tiba suara dua orang yang saling
bersahut-sahutan sambil memanggil nama mereka langsung mengalihkan perhatian
mereka. Terlihat jauh sana di belakang Shofia terdapat Putra yang sedang mencarinya
sambil terus memanggil namanya sementara itu tak jauh dari belakang Alvaro
terdapat Tasya yang sedang mencari Alvaro.
Merasa posisi mereka tidak aman, Alvaro segera menarik tangan Shofia untuk
menjauh dari posisi itu. Mereka berdua sembunyi di laboratorium biologi, yang
kebetulan pada waktu itu sedang terbuka lebar. Dua insan yang tadi mencari
mereka pun saling bertemu.
"Shofia," teriak Putra.
"Alvaro," teriak Tasya.
"Alvaro," lanjut Tasya berteriak.
"Woy, berisik. Lo pikir lo ajah yang nyari orang, gue juga nyari orang
kali," kata Putra ngegas.
"Santai kali, nggak usah ngegas juga. Udah deh gue mau cari bebeb gue si
Alvaro. Bye," kata Tasya ngegas lalu pergi meninggalkan Putra.
"Yaudah, pergi sono yang jauh," kata putra, setelah itu ia fokus kembali
mencari Shofia.
Dua insan lainnya merasa lega di dalam laboratorium biologi, sungguh mereka seperti dikejar-kejar oleh debkolektor. Shofia yang merasa dirinya sudah aman pun ingin segera keluar dari tempat persembunyiannya, namun ia ditahan oleh Alvaro. Ni cowok ngapain lagi nahan gue, pikir Shofia. Alvaro mengenal Shofia begitu juga sebaliknya, bagaimana mungkin mereka tidak saling mengenal secara mereka berdua berlian SMA Pelita Jaya yang telah meraih begitu banyak penghargaan hanya saja di bidang yang berbeda. Jika Alvaro mahir dalam bidang non-akademik maka Shofia sangat mahir dalam bidang akademik.
"Lo dikejar-kejar terus sama tuh cowok?" tanya Alvaro pada Shofia dan Shofia pun mengangguk menandakan iya.
"Lo mau nggak bebas dari tuh cowok?" tanya Alvaro dan diangguki lagi oleh Shofia.
"Lo bisa ngomong nggak sih?" tanya Alvaro kesal.
"Bisa," jawab Shofia singkat.
"Makanya ngomong, entar gue kira lo bisu lagi," kata Alvaro.
"Lo beneran mau bebas dari tuh cowok?" tanya Alvaro serius.
"Iya," jawab Shofia singkat.
"Lo jadi pacar gue," ujar Alvaro datar dan santai.
"Hah?" tanya Shofia sedikit berteriak karena kaget.
"Lo gilak ya," lanjut Shofia tak habis pikir dengan cowok di depannya itu.
"Lo jangan mikir aneh-aneh dulu," kata Alvaro.
"Jadi gini, lo kan dikejar-kejar terus sama tuh cowok dan gue juga dikejar-kejar mulu sama cewek itu. Jadi kalau kita pacaran, otomatis mereka nggak bakal ngejar-ngejar kita lagi. Ya anggap ajahlah simbiosis mutualisme, lo untung dan gue juga untung," jelas Alvaro panjang lebar.
"Oh, maksud lo kita pura-pura pacaran gitu?," tanya Shofia memastikan.
"Ya, bener banget," kata Alvaro.
"Jadi lo mau nggak?" tanya Alvaro.
Shofia terlihat berpikir sejenak, lalu ia pun mengangguk dan berkata, "Okeh, gue mau jadi pacar pura-pura lo." Usai mengatakan itu, dua insan itu berjabat tangan menandakan kerjasama di mulai. Shofia keluar dari laboratorium biologi itu, meninggalkan Alvaro yang masih setia berada di dalam sana. Semoga ajah kerjasamanya menghasilan sebuah hasil yang memuaskan, pikir Shofia sembari berharap.
***
Pagi hari ini cukup cerah, Shofia berjalan memasuki gerbang SMA Pelita Jaya.
Shofia celingak-celinguk melihat-lihat ke arah kanan dan kiri, takut ada Putra
yang tiba-tiba datang menghampirinya dan menghantui pagi harinya. Eh bentar sekarangkan gue pacar Alvaro jadi ngapain gue takut tuh makhluk meresahkan ganggu gue soalnya kalau dia ganggu gue dan gue bilang gue pacar Alvaro pasti dia pergi, pikir Shofia. Shofia pun berjalan dengan santai, namun seketika
ia merasa heran kenapa anak-anak sekolah melihat dia sungguh ia merasa ia tidak
berbuat salah apapun dan penampilannya pun tidak ada yang salah.
"Itu pacar sih Alvaro," kata cewek berambut keriting di depan kelas
dua belas IPA empat.
"Gilak, cantik banget cewek sih Alvaro," ucap cowok yang
memperhatikan Shofia dari tangga di sebelah ruangan OSIS.
"Yah, kalah saing sih gue kalau pacar Kak Alvaro itu dia," ucap
seorang adik kelas di belakang Shofia.
"Kenapa Alvaro mau sama kutu buku kek dia sih," ujar seorang cewek
yang baru saja melewati Shofia.
"Dih, sok cantik," kata cewek di depan kelas dua belas IPS dua.
Semua perkataan itu tidak lepas sedikit pun dari pendengaran Shofia, sungguh
Shofia sangat marah saat ini. Kenapa bisa satu sekolah tau kalau gue pacaran sama
si Alvaro sih, pikir Shofia heran. Shofia mempercepat langkahnya untuk ke kelas
Alvaro dengan niat meminta penjelasan, namun lonceng telah berbunyi jadinya
Shofia terpaksa menunda dirinya untuk bertemu Alvaro sebab pelajaran pertama di kelasnya lebih penting. Pelajaran pertama di kelas Shofia adalah matematika, jika
ia terlambat masuk bisa-bisa ia dihukum sama Bu Indra sebab guru itu sangat
kiler sekali.
"Awas lo Alvaro, entar gue putusin lo ," batin Shofia, emosi.
Shofia melangkah menuju kelasnya yaitu sebelas IPA satu, ia memasuki kelasnya
lalu langsung duduk di kursinya yang terdapat di bagian paling depan itu. Ia
mendudukkan bokongnya, lalu ia mengeluarkan buku pelajaran pertama yaitu
matematika.
Shofia merasa
ada yang aneh dengan teman sebangkunya, pemilik nama lengkap Serangel Wijaya
atau yang disapa Angel itu terus menatap ia sedari tadi. Sungguh apalagi ini,
apa semua orang mendadak memperhatikan Shofia hanya karena ia pacar Alvaro dan
jika Shofia bukan pacar Alvaro maka semua orang tidak akan memeperhatikan Shofia.
"Kenapa lo lihat gue terus?" tanya Shofia langsung to the point pada
Angel.
"Gue nggak nyangka ajah, kalau lo si kutu buku dan terkenal bodoh amat
soal percintaan tiba-tiba pacaran sama si Alvaro," kata Angel datar.
"Hah? Lo tau darimana kalau gue pacaran sama si Alvaro?" tanya Shofia
heran sambil mengernyitkan dahinya.
"Alvaro post foto lo di Instagram terus captionnya my girlfriend,"
jawab Angel sambil menunjukkan hal itu pada Shofia.
"Hah, gimana bisa sih," ucap Shofia heran.
"Ya bisalah, diakan pacar lo," kata Angel.
"Bye the way, lo sejak kapan pacaran sama dia?" tanya Angel.
"Nanti ajah ya gue jawab, guru kiler udah mau masuk kelas tuh," kata
Shofia sambil menunjuk ke arah Bu Indra yang berjalan menuju kelasnya.
"Awas lo Alvaro, bener-bener gue putusin lo nanti," batin Shofia
dengan emosi yang menggebu-gebu.
Shofia mengikuti pelajaran matematika dengan baik, sungguh ia sangat menyukai
pelajaran ini. Waktu terus berlalu, istirahat pun sedang berlangsung saat ini.
Shofia sedari tadi mencari-cari Alvaro namun ia belum juga menemukan Alvaro,
hingga hanya satu tempat saja yang belum ia datangi yaitu taman sekolah. Shofia
berjalan ke arah taman sekolah, ia mendapati Alvaro yang duduk di kursi yang berada tengah
taman itu.
Ia berjalan mendekati Alvaro, sungguh ia sangat emosi pada cowok itu.
Sepertinya Shofia sangat ingin membungkus cowok itu sekarang juga dan
membuangnya ke tengah lautan, agar hiu memakannya hingga musnah dari bumi ini.
Shofia berdiri dihadapan cowok itu dengan dua tangan di pinggangnya.
"Alvaro apa maksud lo post foto gue di Instagram?" tanya Shofia
dengan suara yang meninggi.
"Supaya semua orang tau kalau lo pacar gue," jawab Alvaro santai.
"Tapi nggak harus satu sekolah tau, ini satu sekolah udah tau kalau gue
pacar lo," kata Shofia emosi dan frustasi.
"Terus?" tanya Alvaro heran.
"Terus-terus pala mu peang, gue mau kita putus sekarang juga," kata
Shofia dengan nada yang meninggi.
"Baru juga sehari pacaran, masak mau putus?" tanya Alvaro pada Shofia.
"Nggak mau tau pokoknya gue mau kita putus sekarang juga," kata Shofia dengan nada tinggi.
"Yah, terserah lo," kata Alvaro.
"Yaudah kita putus," kata Shofia sambil berjalan meninggalkan Alvaro.
"Palingan bentar lagi datang ke gue terus minta balikan sama gue," batin Alvaro sambil terus menghitung tangannya, ya untuk mengetahui berapa lama ia dan Shofia putus sebab ia sangat yakin sekali dalam hitungan detik saja Shofia pasti akan langsung datang padanya dan meminta untuk balikan.
Sekitar lima langkah Shofia menjauh dari Alvaro, tiba-tiba saja Shofia terhenti sebab terlihat di ujung sana Putra sedang mencari-cari Shofia sambil terus memanggil namanya. Aduh mampus gue, pikir Shofia. Sepertinya tak ada pilihan lain, Shofia melihat ke arah Alvaro yang terus berhitung di sana. Sial banget gue, tuh cowok kayaknya tau deh kalau gue bakal langsung datang sama dia dan minta balikan pikir Shofia.
Shofia berjalan cepat ke arah Alvaro, lalu berkata, "Alvaro, gue mau kita balikan ya." Kata Shofia sambil melihat ke arah Alvaro, sungguh cowok itu begitu bikin kesal sebab ia terlihat begitu santai sementara Shofia begitu panik.
"Belum juga lima menit putus udah minta balikan ajah," kata Alvaro sambil menaikkan alisnya.
"Pliss ya, kita balikan ya," ucap Shofia memohon.
"Tadi katanya, nggak mau tau pokoknya gue mau kita putus," kata Alvaro menirukan suara Shofia.
"Sorry deh, sekarang kita balikan ya," ajak Shofia.
"Mau nggak ya," kata Alvaro santai.
"Mau dong," ucap Shofia dengan panik, berharap Putra masih jauh agar ia bisa balikan dengan cowok sialan didepannya itu terlebih dahulu.
"Okeh, karena gue baik jadi gue mau balikan sama lo," ucap Alvaro, Shofia yang mendengar itupun lega.
Putra yang menemukan keberadaan Shofia pun senang, ia langsung menuju di tempat Shofia berada. Ia melihat ke arah Shofia dan berkata, "Kita makan berdua di kantin yuk." Setelah mengucapkan itu ia pun ingin memegang tangan Shofia namun hal itu dihalang oleh Alvaro.
"Ngapain lo ngajak cewek gue makan bareng?" tanya Alvaro.
"Mana mungkin Shofia cewek lo, lo cuma halu kali," kata cowok itu tak percaya.
“Lo yang halu,”
kata Alvaro.
"Kita udah pacaran, benerkan Fifi? tanya Alvaro pada Shofia, Shofia yang
awalnya kaget karena Alvaro memanggilnya Fifi lalu dengan cepat ia menetralkan
rasa kagetnya dan segera mengangguk.
"Fifi?" tanya Putra heran.
"Iya, panggilan kesayangan dari gue buat cewek gue," kata Alvaro
tegas.
"Lo, nggak usah ganggu cewek gue lagi. Kalau gue lihat lo ganggu Fifi
lagi, muka lo yang jelek ini gue bikin tambah jelek," lanjut Alvaro sambil
menarik Shofia meninggalkan taman itu.
Mereka berjalan beriringan, menuju kelas Shofia karena lonceng baru saja
berbunyi. Alvaro memegang tangan Shofia, hal itu tidak lepas dari perhatian
semua warga SMA Pelita Jaya yang melihat itu. Mereka semua yang melihat itu pun
bersorak histeris.
“Mereka cocok
banget,” ucap cewek berambut dora.
“Serasi banget
sih,” kata cewek yang baru saja mereka lewati
“Yah, calon
suami gue hilang satu ni,” ujar cewek berambut panjang di belakang mereka.
“Gilak sih Alvaro
bisa dapatin si Shofia, si Putra yang bertahun-tahun ngejar Shofia ajah nggak
dapet,” kata cowok rambut kribo yang nongkrong di depan kelasnya sambil
menunggu guru datang.
“Kak Alvaro sama
Kak Shofia cocok banget ya,” kata adik kelas yang baru saja melewati mereka.
“Berlian SMA
Pelita Jaya bersatu, auto ambyar ni,” ujar cowok berbadan kurus.
Semua hal itu
tidak lepas dari pendengaran Shofia dan juga Alvaro, mereka berjalan sendiri
ajah sering diomongin seperti itu apalagi mereka berjalan berdua. Shofia dan
Alvaro saling melihat, sungguh keduannya terlihat biasa saja bahkan tidak
terganggu sedikit pun.
Shofia memang
seorang kutu buku, namun ia berbeda dari kutu buku lainnya. Jika para kutu buku
lainnya culun dengan kacamata yang bertengker di telinga mereka, maka Shofia
sebaliknya. Shofia tetaplah wanita normal yang memperhatikan kecantikan diri,
ia memiliki tubuh yang modis bahkan ketika ia memakai kacamata aura pintar dan
kecantikannya semakin bertambah. Alvaro seorang cowok yang berbadan kekar dan
memiliki postur tubuh yang bagus, selain itu ia terkenal pintar juga di bidang musik
terutama dalam alat musik gitar. Tidak heran ketika Shofia dan Alvaro berjalan
beriringgan, begitu banyak yang bilang sangat cocok dan serasi sebab faktanya
mereka berdua memang begitu.
Beberapa hari berlalu, semenjak kejadian Shofia dan Alvaro balikan di taman
semenjak itu juga mereka sering berdua. Katanya sih antisipasi takut tiba-tiba
Tasya dan Putra datang, kenapa coba dua makhluk itu tidak pacaran saja biar
hidup Shofia dan Alvaro tenang.
Shofia dan Alvaro sedang makan berdua di kantin, mereka makan bakso. Sesekali
mereka bercanda tawa lalu bercerita soal kejadian-kejadian yang mereka alami.
Disela-sela keasikan mereka berdua, tiba-tiba saja Tasya datang lalu duduk di
sebelah Alvaro.
"Alvaro, kamu kemarin kemana ajah sih?," tanya Tasya.
"Nggak kemana-mana," jawab Alvaro singkat, sebenarnya kemarin ia
menemani Shofia keluar sekolah untuk urusan lomba pantas saja cewek itu tidak menemukan dirinya di sekolah.
"Kamu makan bakso ya, bagi dong," ucap Tasya manja.
"Beli sendiri sana," kata Alvaro.
"Nggak mau, aku maunya semangkuk sama kamu," kata Tasya manja.
"Ganje banget lo jadi cewek," kata Shofia memotong pembicaraan mereka karena tidak tahan
lagi sama tindakan cewek itu.
"Jadi cewek itu jangan gatel deh," lanjut Shofia ngegas pada Tasya.
"Lo yang jangan gatel, ngapain lo deketin cowok gue," kata Tasya tak
mau kalah.
"Wah kurang ajar lo," kata Shofia dengan nada tinggi lalu menyiramkan
segelas air putih dingin ke arah cewek itu.
"Boleh juga cewek ni," batin Alvaro yang tersenyum bahagia melihat tindakan
Shofia yang berani.
Shofia langsung memegang tangan Alvaro dan menariknya pergi meninggalkan kantin. Mereka berjalan beriringan, dengan Shofia yang terus menarik tangan Alvaro. Keren juga ni cewek, pikir Alvaro. Mereka berdua berpisah saat memasuki kelas masing-masing.
***
Hari ini Shofia menemani Alvaro tanding basket yaitu melawan SMA tetangga yaitu
SMA Indah Bangsa, Shofia duduk di kursi penonton sambil memegangi barang-barang
Alvaro ditangannya. Shofia menyaksikan pertandingan itu dengan serius, tak
jarang sesekali ia berteriak memberikan semangat pada Alvaro.
Usai pertandingan basket, Alvaro mengajak Shofia makan malam bersama di sebuah
cafe. Kebetulan ini malam minggu jadi Shofia bisa lebih lama di luar, jika ini
malam biasa tentu saja cewek di depan Alvaro itu sudah merengek
minta pulang sedari tadi karena ingin belajar.
"Fi, lo pernah di tembak cowok nggak?" tanya Alvaro.
"Pernah," jawab Shofia singkat.
"Lo terima?" tanya Alvaro.
"Nggak," jawab Shofia.
"Kenapa? Lo nggak suka sama tuh cowok?" tanya Alvaro heran.
"Selain nggak suka, cara nembaknya juga kampungan," jawab Shofia singkat.
"Emang cara nembak nggak kampungan versi lo gimana?" tanya Alvaro.
"Nembak pakai cara matematika," Jawab Shofia.
"Huk-huk-huk," batuk Alvaro karena kaget.
"Gimana caranya tuh?" tanya Alvaro.
"Ya nggak tau, pokoknya harus ada unsur matematikanya gitu soalnya gue
suka pelajaran matematika," ucap Shofia santai yang diangguki Alvaro
sembari berpikir.
Hari semakin malam, Alvaro pun mengantar Shofia pulang. Mereka menikmati
jalanan malam melalui kaca depan mobil Alvaro, sesekali mereka bercerita lalu
tertawa terbahak-bahak akibat lelucon yang tercipta diantara keduanya.
Hari-hari berjalan sesuai rencana mereka, semakin mereka dekat maka semakin dua
insan itu tidak lagi mengejar-ngejar mereka. Sungguh ini benar-benar simbiosis
mutualisme, sama-sama menguntungkan kedua belah pihak. Alvaro semakin hari
semakin perhatian dengan Shofia, terlihat bukan perhatian biasa namun lebih
dari perhatian biasa yang mengarahkan ke sebuah ketulusan dari hati.
Hari ini jam kosong di satu sekolah, semua guru-guru rapat mendadak hari ini
dan semua siswa pun berhamburan namun paling banyak dari mereka ke kantin untuk
makan atau hanya sekedar duduk-duduk saja. Alvaro sedang berada di taman saat
ini, ia membawa dua kotak kado satu untuk dirinya dan satu lagi untuk Shofia
selain itu ada juga sebuah kertas putih di tangannya. Alvaro segera menghubungi
Shofia agar segera datang menemuinya, di saat menunggu cewek itu tiba-tiba
hatinya menjadi sangat gugup dan deg-degan.
Alvaro memberikan sebuah kertas putih pada Shofia, Shofia membuka kertas itu lalu mengeryitkan dahinya. Shofia yang melihat kertas itu pun lalu berkata, "Seratus dua puluh delapan akar e sembilan ratus delapan puluh," usai mengatakan hal yang ia lihat di kertas itu, pandangannya pun langsung mengarah ke arah Alvaro meminta penjelasan. Apa ni cowok mau gue kerjain ni soal ya, pikir Shofia.
"Kamu bingung ya?" tanya Alvaro dan diangguki Shofia.
Alvaro mengambil kembali kertas itu, ia menghapus sebagian tulisan di kertas itu dan memberikan kertas itu kembali pada Shofia. Shofia yang melihat tulisan itu pun kaget, ia melihat ke arah Alvaro berharap mendapatkan kepastian dari kebingungan dirinya itu.
"Maksudnya apa, Va?" tanya Shofia.Vava atau Va adalah panggilan khusus dari Shofia buat Alvaro yang dipakai selama beberapa hari belakangan ini. Jika Alvaro punya panggilan khusus untuk
Shofia yaitu Fifi makan Shofia juga punya yaitu Vava.
"Love dan i love you?" tanya Shofia lagi yang bingung.
"Apa cowok yang di depan gue ni suka sama gue? Tapi gimana mungkin," batin Shofia.
"Love, kamu taukan artinya apa?" tanya Alvaro pada Shofia lalu Shofia pun mengangguk.
"Coba kasih tau aku arti love apa, Fi," perintah Alvaro pada Shofia.
"Cinta," kata Shofia pelan.
"Iya cinta, aku cinta sama kamu," kata Alvaro lantang, Shofia yang mendengar itupun kaget sungguh ini sangat cepat bagi dirinya.
"Aku tau ini sangat cepat, Fi. Tapi inilah faktanya, aku cinta sama kamu terus aku sayang dan suka sama kamu," ujar Alvaro sambil menatap ke mata Shofia.
"Tapi ini terlalu cepat banget, Va. Gue ajah nggak suka sama lo apalagi cinta," ucap Shofia dengan takut-takut.
"Nggakpapa kok, Fi. Aku nggak maksa kamu untuk nerima aku dan yang aku lakuin ini cuma ngukapin perasaan ke kamu dan kamu nolak aku. It's okeh, Fi. Namanya juga perasaan," kata Alvaro bijak.
"Jadi lo nggak marah sama gue?" tanya Shofia.
"Ya jelas nggak," jawab Alvaro lantang.
"Kita bakal tetap dekat seperti biasakan, Va?" tanya Shofia.
"Iya, Fi," ucap Alvaro.
"Kali ini memang gagal, tapi aku yakin Fi kamu nggak akan nolak aku kedepannya," batin Alvaro.
Setelah kejadian di taman itu berlalu, mereka tetap seperti biasa tidak ada yang menjauh satu sama lainnya. Shofia pikir Alvaro menerima penolakan dari dirinya dengan ikhlas, namun nyatanya Alvaro tidak menerima semuanya secara seratus persen karena ia masih berjuang agar Shofia suka sekaligus sayang dan cinta pada dirinya agar Shofia mau menerima perasaannya. Semuanya berjalan begitu lancar, semakin hati keduanya semakin dekat dan dua insan yang sering mengangguk mereka pun tidak terlihat lagi mungkin saja dua insan itu sudah berpacaran. Aku nggak tau kapan kamu akan punya perasaan sama aku tapi aku akan menunggu waktu itu sampai kapan pun itu dan aku juga akan terus berusaha supaya kamu juga segera punya perasaan yang sama seperti aku Fi, pikir Alvaro.
-TAMAT-


Lucu banget ya cerita cinta anak zaman SMA tuh wkk
BalasHapus