Cerita Pendek (Friend Zone)

 

Friend Zone

Sumber gambar :https://www.eatliver.com/friend-zone/

Siang hari yang terik begitu panas, matahari tepat di kepala setiap manusia. Minum es buah menjadi pilihan tepat yang dipilih oleh dua insan itu, mereka sedang berada di kantin sekolah. Cairan penghilang dahaga itu terasa lebih berharga  dibanding semangkuk bakso panas. Dua insan itu  Nathan dan Nadia, Nathan memakan buah-buahan itu begitu lahap seakan-akan kenikmatan buah-buahan itu tiada tara di dunia ini sementara Nadia terus menyeruput kuah es buah yang begitu nikmat. Mereka memakan es buah itu tanpa menyisakan sedikitpun dimangkuknya.

"Gue pergi ke kelas dulu ya," kata Nadia pada Nathan.

"Mau gue anterin?" tanya Nathan.

"Nggak, gue bisa sendiri kok," ucap Nadia.

"Oh yaudah sana, es buahnya nanti gue bayari," kata Nathan sambil melihat ke arah Nadia.

"Makasih ya, Nat," ucap Nadia.

"Santai ajah kali, biasanya juga lo porotin duit gue. Udah sana bentar lagi bell bunyi entar lo telat lagi masuk kelasnya," kata Nathan panjang lebar.

"Yaudh, bye Nathan," ucap Nadia sambil melambaikan tangan pada Nathan dan pergi meninggalkannya.

"Bye, Nad," ucap Nathan pelan sambil melihat kepergian Nadia dengan senyum tipis yang terpancar di bibirnya itu.

Jam pelajaran sudah berlangsung, Nathan dan Nadia sudah masuk kelas mereka masing-masing. Nathan di kelas XII IPS 1 dan Nadia di kelas XII IPA 2. Mereka berdua memang sangat dekat, bahkan dikira pacaran padahal aslinya mereka hanya sahabatan. Kedekatan mereka sudah berlangsung selama bertahun-tahun, tepatnya saat keluarga Nathan pindah ke rumah yang letaknya di depan rumah Nadia yaitu saat Nathan kelas 7 SMP.

Jam pulang sekolah sedang berlangsung, semua murid sedang mengantri di depan gerbang SMA Jaya Baru agar segera keluar dari sekolah itu. Nathan berjalan dari kelasnya menuju kelas Nadia, jarak kelas Nathan dan Nadia hanya dibatasi oleh lima kelas saja jadi tidak begitu jauh jaraknya. Saat Nathan sampai di depan kelas Nadia, Nathan melihat Nadia sedang piket kelas. Mata Nathan begitu fokus melihat Nadia yang sedang sibuk dengan lantai-lantai berdebu di kelasnya itu, tanpa disadari Nathan menarik bibirnya keatas hingga menciptakan sebuah senyum.

"Nathan, tunggu bentar ya gue piket dulu," ujar Nadia yang baru saja menyadari keberadaan Nathan.

"Mau gue bantuin nggak?" tanya Nathan.

"Nggak usah bentar lagi juga siap," ucap Nadia yang diangguki Nathan.

Nathan memperhatikan Nadia, senyum diwajahnya terukir saat melihat wanita itu begitu serius dengan pekerjaannya. Usai dari tugas piketnya Nadia dan Nathan pun pulang, mereka meninggalkan perkarangan sekolah menggunakan motor ninja hitam milik Nathan.

Jalanan kota tampak cukup ramai di sore hari ini, begitu banyak orang yang berlalu lalang. Ada yang baru pulang sekolah, pulang dari kantor, berjalan di sore hari dan masih banyak lagi. Nathan menghentikan motornya di Taman Kota, Nadia mengeryitkan dahinya bingung dengan apa yang dilakukan cowok itu.

"Makan es krim bentar yuk," ajak Nathan.

"Tapi aku udah nggak punya uang, Nat," ujar Nadia pada Nathan.

"Gue yang traktir lo, tenang ajah," kata Nathan sambil menarik tangan Nadia lalu menuju  yang ada ditengah taman kota lalu Nathan meninggalkan Nadia untuk membeli es krim.

"Pak es krimnya dua ya, satu rasa vanila dan satu lagi rasa coklat," ucap Nathan pada tukang es krim itu.

"Ini es krimnya nak," ucap tukang es krim sambil memberikan dua es krim ke tangan Nathan.

"Ini uangnya pak," kata Nathan sambil menyodorkan satu lembar uang lima puluh ribu.

"Kembalinya ambil aja pak," ucap Nathan lalu meninggalkan tukang es krim itu.

"Makasih nak," ucap tukang es krim yang tidak didengar oleh Nathan.

Nathan berjalan menuju ke ayunan tempat ia meninggal Nadia, dari kejauhan Nathan melihat Nadia yang sedang bermain ayunan sambil tersenyum. Nadia terlihat begitu cantik ketika tersenyum, Nathan sampai terpaku melihatnya. Nathan langsung menyadarkan dirinya dari keterpakuannya dan menuju ke tempat Nadia sambil membawa es krim.

"Ni es krim vanila kesukaan lo," ujar Nathan sambil menyerahkan es krim itu ke Nadia.

"Makasih Nathan yang paling ganteng," ujar Nadia sambil menunjuk senyum paling manisnya pada Nathan.

"Iya, gini ajah lo baru bilang kalau gue ganteng," ucap Nathan sambil mendudukkan bokongnya ke ayunan yang berada di sebelah Nadia.

Kedua insan itu menikmati es krim itu sambil berbicara, tak jarang mereka bercanda tawa. Hari semakin sore, saat es krim habis mereka pun langsung pulang. Nathan mengantarkan Nadia terlebih dahulu baru ia pulang, jarak rumah Nadia dan Nathan hanya dibatasi raya yang berada di depan rumah mereka.

Malam hari tiba Nathan berada di rooftop rumahnya, ia melihat ke arah rooftop kamar Nadia. Lampu kamar itu masih menyala, mungkin gadis itu sedang packing buat pulang ke kampung orangtuanya. Jam tujuh malam tadi Nadia datang ke rumah Nathan, memberikan surat izin karena selama seminggu kedepan Nadia tidak akan masuk sekolah. Nadia akan menjenguk neneknya yang sedang sakit di Malang.

Nathan masih setia berada di rooftopnya itu, sebuah benda pipih berlogo apel ditangannya pun dibukanya. Menampilkan figur dirinya bersama wanita itu, dengan melihat fotonya saja jantungnya sudah berdebar ditambah setiap di samping wanita itu jantungnya semakin berdebar.

"Gue nggak tau kapan perasaan ini muncul," gumam Nathan.

"Tapi perasaan ini pasti dan jelas ada buat Lo, Nad," lanjut Nathan sambil menatap ke arah rooftop Nadia.

 "Gue bakal kasih tau ini semua ke lo, saat lo pulang dari kampung," ucap Nathan.

"Gue nggak peduli lo punya perasaan yang sama ke gue atau nggak, intinya gue cuma mau lo tau, Nad," lanjut Nathan.

***

Nadia telah pergi ke kampung halaman orang tuanya, disela-sela kepergian Nadia, Nathan mempersiapkan semuanya sebelum ia mengungkapkan perasaannya pada wanita itu. Nathan membeli coklat kesukaan Nadia, mempersiapkan tempat yang romantis, membeli boneka beruang pink kesukaan Nadia, menyiapkan bunga mawar merah dan juga membelikan gaun untuk Nadia. Semua persiapan begitu matang, Nathan sungguh berharap hasilnya sama seperti persiapan yang ia lakukan yaitu sempurna.

Besok pagi Nadia akan pulang ke Surabaya, besok malam Nathan akan memberitahu perasaannya pada Nadia. Saat ini Nathan sudah berada di depan kaca kamarnya, ia sedang berkomat-kamit di depan kaca itu sedari satu jam lalu. Ia berlatih untuk menyampaikan isi hatinya pada Nadia.

"Nad, gue suka sama lo," ucap Nathan pelan di depan kaca itu.

"Eh nggak gitu, jelek banget. Masak iya pakai lo seharusnya kamu," kata Nathan.

"Okeh ulang," lanjut Nathan.

"Nad, sebenarnya aku suka sama kamu. Kamu mau nggak jadi pacar aku?" ucap Nathan.

"Iya gitu, iya bener gitu. Cuma nadanya kurang lembut nanti gue lembutin lagi deh," gumam Nathan sambil menatap kaca di depannya.

Hari sudah semakin malam, Nathan merebahkan dirinya di kasur king size miliknya. Mengambil handphonenya lalu membuka galeri dan melihat fotonya bersama wanita yang telah berhasil membuat jantungnya berdetak kencang. Menatap dan mengukir senyum di wajahnya saat melihat foto itu, entah apa yang terjadi pada dirinya ia pun tidak tau yang jelas dia selalu tersenyum melihat foto wanita itu.

***

Hari ini hari minggu, jalanan cukup macet. Seharusnya Nadia sampai rumah jam sepuluh pagi tapi malah sampai jam dua belas siang, Nathan yang mengetahui Nadia sudah sampai di rumahnya pun langsung keluar rumah dan memberikan gaun kepada Nadia serta mengajak ia ketemuan nanti malam dengan mengenakkan gaun itu.

Ketika langit mulai menampakkan warna jingganya, Nathan sudah berada di tempat yang ia booking. Nathan sudah siap dengan setelah jas dibadannya, Nathan tampak begitu tampan. Usai memastikan semuanya siap, Nathan pun langsung menjemput Nadia mengunakan mobil lamborghini hitam kesayangannya itu. Setelah cukup lama di perjalanan, akhirnya Nathan sampai di depan rumah Nadia dan Nadia sudah menunggunya sedari tadi. Mereka langsung pergi dari komplek rumah mereka, menuju tempat yang hanya diketahui Nathan.

"Lo cantik banget malam ini, Nad," batin Nathan sambil melihat Nadia yang fokus dengan jalanan kota di malam hari.

"Aduh jantung gue makin berdebar lagi, semoga ajah Nadia nggak denger debaran jantung gue," ucap Nathan dalam hatinya.

"Nat, gue pengen ngomong sesuatu sama lo nanti," ucap Nadia sambil memegang tangan Nathan dan menatapnya dengan tulus.

"Gue udah nyimpan hal ini lama banget, gue rasa nanti waktu yang tepat buat gue ngomong sama lo," ucap Nadia sambil tersenyum kearah Nathan, Nathan yang mendengar itupun menganggukkan kepalanya.

"Apa lo rasain juga yang gue rasain, Nad," Batin Nathan.

Sekitar dua puluh menit perjalanan, akhirnya mereka sampai di pantai. Tak jauh dari tempat mereka memakirkan mobil terdapat sebuah tenda putih yang dihiasi begitu indah, lampu-lampu ditenda itu memperkuat suasana di malam itu. Mereka berjalan beriringan menuju tenda itu, sambil menggenggam tangan satu sama lain. Nadia tampak takjub banget dengan yang ia lihat oleh netranya itu.

"Cantik banget, gue nggak nyangka Nathan bisa punya ide untuk bikin ginian," batin Nadia.

Mereka makan sambil bercerita soal hari-hari yang dijalani selama seminggu ini, sesekali mereka saling tertawa dan berkomentar mengenai makanan yang mereka makan. Selesai makan Nathan menetralkan detak jantungnya, ia akan segera mengungkapkan semuanya ke Nadia.

"Nad, tadi lo bilang mau ngomong sesuatu. Mau ngomong apaan?" tanya Nathan dengan niat basa basi.

"Oh itu," ucap Nadia pelan sambil menatap Nathan.

"Jadi lo mau ngomong apa? Soalnya gue mau ngomong sesuatu juga. Gue duluan atau lo duluan yang ngomong?" tanya Nathan.

"Gue ajah," ucap Nadia singkat, Nathan menunggu sepotong keluar dari mulut wanita itu. Sungguh dia sangat penasaran apa yang akan dikatakan wanita itu, ia berharap wanita itu mengatakan apa yang ia harapkan.

"Waktu gue pulang kampung, gue ketemu sama Daniel. Lo ingatkan sama Daniel mantan gue waktu SMP itu?" tanya Nadia yang diangguki oleh Nathan.

"Jadi gue mau bilang, Daniel itu pindah ke Malang dan dia masih suka sama gue...," kata Nadia yang Langsung dipotong oleh Nathan.

"Jangan bilang dia ganggu lo lagi," kata Nathan ngegas.

"Tunggu dulu gue belum selesai ngomongnya," kata Nadia.

"Jadi dia nembak gue dan gue terima," kata Nadia. Jantung Nathan berdebar semakin kencang, dia ingin sekali pergi dari tempat itu namun ditahan oleh dirinya.

"Selama ini gue bohong sama lo, gue belum move on dari dia. Kemarin pas dia nembak gue lagi, gue bahagia banget jadi gue terima," lanjut Nadia.

"Jadi itu yang lo mau omongin ke gue?" tanya Nathan. Nadia yang mendengar pertanyaan Nathan pun hanya mengangguk.

"Lo jangan marah ya, Nat," ucap Nadia sambil menggenggam tangan Nathan.

"Gue nggak marah kok, asalkan lo bahagia. Tapi kalau dia berani nyakitin lo lagi kek dulu, gue jamin gue sendiri yang bakal habisin dia pakai tangan gue sendiri," ucap Nathan sambil membalas genggaman tangan Nadia.

"Tadi lo bilang lo mau ngomong sesuatu, lo mau ngomong apa?" tanya Nadia.

 "Oh gitu, gue mau ngomong kemarin gue di hukum Pak Remon gara-gara gue nggak buat PR matematika," kata Nathan bohong.

 "Kok bisa?" tanya Nadia.

"Ya bisa, nggak ada lo yang ngajarin gue matematika," ucap Nathan dengan wajah sebal.

"Iya nanti gue ajarin," kata Vina.

Hari semakin larut, dua insan itupun memutuskan untuk pulang ke rumah. Di dalam perjalanan, Nathan hanya diam tidak seperti biasanya yang banyak bicara. Tatapannya kosong ke arah jalanan, tanpa melihat ke arah Nadia sedikit pun. Seakan-akan jalanan dihadapannya lebih menarik dibanding Nadia yang cantik nan anggun disebelahnya. 

"Lo punya masalah, Nat?" tanya Nadia.

"Nggak kok, Nad," kata Nathan.

"Tapi lo diam ajah nggak kek biasanya banyak bicara," kata Nadia.

 "Gue cuma lagi ngantuk ajah," kata Nathan singkat.

 "Ooo," ucap Nadia.

Setelah mengantarkan Nadia, Nathan langsung pulang. Ia mengambil coklat, bunga dan boneka beruang pink dari bagasi mobilnya. Ia masuk ke dalam rumahnya dan meletakan semua itu ke kamar adiknya yaitu Elvira. Saat ini Nathan berada di rooftop kamarnya, ia melihat ke arah rooftop kamar Nadia. Berpikir apa yang sedang wanita itu lakukan, mungkin saja sedang sleep call sama pacarnya.

 "Gue pikir lo punya perasaan yang sama kek gue, ternyata tidak" ucap Nathan pelan diiringi bulir bening yang mengalir di pipinya.

 "Gue nggak nyangka sakitnya, sesakit ini," lanjut Nathan.

"Rasanya gue pengen banget nyulik lo terus bawa lo jauh dari Daniel," ujar Nathan.

 "Apa kurang gue Nad, gue selalu ada buat lo tapi lo malah gagal move on dan sekarang lo pacaran sama si Daniel," ucap Nathan sambil menatap kosong ke arah rooftop kamar Nadia. 

Berhari-hari berlalu, Nathan akhirnya masuk sekolah hari ini setelah dua hari meliburkan diri demi menerima kenyataan kemarin malam. Hari ini Nathan menjalani harinya seperti biasa, seperti tidak terjadi apa-apa. Nathan tetap berteman dengan Nadia dan tetap selalu ada buat Nadia.

 "Gue emang nggak bisa milikin lo Nad, tapi gue bisa untuk selalu ada buat lo," gumam Nathan sambil melihat Nadia bermain basket di lapangan sekolah.

"Gue bakal pendam ajah perasaan ini, gue nggak mau gara-gara perasaan ini hubungan lo sama gue hancur," batin Nathan.

"Mungkin dengan jadi sahabat lo jalan terbaik buat gue, Nad," kata Nathan dalam hatinya.

Nathan menjalani hari-hari bersama Nadia, Nadia sama sekali tidak mengetahui perasaan Nathan dan Nathan pun tidak berniat untuk memberitahu Nadia mengenai perasaannya. Nathan tidak ingin Nadia pergi ataupun menjauh setelah mengetahui perasaannya. Menurut Nathan biasalah semua berjalan seperti biasa, seolah-olah tidak pernah ada perasaan diantara hubungan mereka.

-TAMAT-

Komentar

  1. Memang benar, tidak ada persahabatan yang murni diantara dua sejoli.

    BalasHapus
  2. Dah, Nat, lo sama gue aja, sini. Jadi friendzone juga tapi. 🀣

    BalasHapus

Posting Komentar